Posted by Veronica Kumurur Mungkin masih tercipta, "kalu ngoni mo datang, datang jo, kita memang cuma bagini, kalu nemau ya sudah pigi jao2"...he..he..gawat sehingga "popo" ini salah praktek dan salah taru kang. Akibatnya, untuk menyediakan sarana2 "penerima tamu" dimana sarana ini menjadi etalase yang dijual sendiri belum menjadi kenyataan, torang masih pake sistem konsinyasi, padahal trg yang punya toko istilahnya. Dan secara konkritpun pemkot tidak berani mengambil dan mengganti sistem yang terjadi seperti Bunaken (misalkan)yang menjadi aset nasional sehingga pengelolaannya menjadi plin-plan dan akhirnya pembangian hasil usahanyapun, nggak ngerti bagimana. Dan masih ada lagi yang membingungkan cara pengelolaannya seperti sumber daya lain, seperti danau, laut, dll. Yang seharusnya merupakan etalase2 pribadi Manado dan Sulut yang seluruh masyarakatnya yang menjadi salesnya...tapi, justru dibiarkan saja tergantung investor pe mau. Semua ini sangat mempengaruhi planing jangka panjang yang salah satunya dituangkan dalam Rencana Tata Ruang Kota (RTRK) RTRK dan REntana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Dan yang paling penting adalah KOMITMEN bersama seluruh masyarakat Kota/Kabupaten dan Propinsi yang mana yang mau dikedepankan. Dan lagi torang juga harus membenahi rasa "SALING PERCAYA" (salah satu elemen GOOD GOVERNANCE) terutama percaya terhadap kinerja pemerintah. Selama ini kan trg jadi kesal karena kepercayaan pada pemerintah. Dan sebetulnya pemeritah (penyelenggara pemerintahan) mestinya membuktikan bahwa mereka layak dipercaya, salah satunya dengan mentaati tujuan dan visi dari kota dan propinsi, menyepakati RTRK dan RTRW, sehingga masyarakat seperti trg ini nggak masa bodoh dan akhirnya ikutan ngerusak supaya tujuan pembagunan pariwisata tidak tercapai. Itu sebetulnya yang penting, merubah budaya yang tadinya TUNGGU TAMU menjadi MENGUNDANG TAMU. Dengan syarat: Bagitu dulu...so panjang kang...
![]()
on November 14, 2006, 11:55 am, in reply to "Veronika dan Fin'Door"
202.152.170.254
Ya..ya..kita setuju, SADIKI POPO, jang TALALU POPO...he..he..betul. Hanya ada yang kita liat dan saksikan sendiri sesuatu yang dimiliki Sulut mungkin menggandrungi semua masyarakatnya (semua stakeholder, maybe). Itu adalah budaya yang tidak mau berobah, dari yang "tuan rumah yang menunggu tamu" ke "tuan rumah yang mau mengundang tamu". Jika antar tetangga tidak ada masalah. Filosofi membalikkan cara menerima tamu inilah yang masih belum tercipta dalam pikiran dan tindakan masing2 stakeholder.
- Saling percaya (salah satu aspek good governance)antar penyelenggara pemerintahan dan masyarakat
- Popo sadiki
- Tegas dalam membuat peraturan/menindakinya (jangan tegas salah2 yang menjurus pada kekerasan)
- TEgas`membuat zonasi2 wilayah dan kota
- Komit dengan apa yang dibikin (utk semua)
