Posted by Berty Pertama saya mau katakan, janganlah berpikir untuk mengubah pola dan gaya hidup pesta orang Manado dalam merayakan Natal. Separah-parahnya krisis ekonomi yang melanda masyarakat (98-99) Situasi Natal di Manado tetaplah terasa dan teralami sebagai pesta : pesta keluarga, pesta masyarakat dan pesta gereja. Apalagi dengan gencarnya arus komersialisasi Natal, tendensi Natal sebagai pesta secara material semakin terasa. Kultur masyarakat manado terhadap Natal sebagai pesta yang berkolaborasi dengan gaya hidup masyarakat modern yang konsumis dan superficial akan membuat "Natal tetaplah pesta di tenagh krisis ekonomi sekalipun". 1. Akan tetapi benarlah kalau Gereja bersifat kritis terhadap manifestasi bentuk-bentuk perayaan Natal itu. Artinya, pola dan tradisi perayaan Natal (yang tak bisa dihapus karena menjadi bagian penting sebagai ekspresi keagamaan)perlu mengintropeksi diri dalam konteks krisis ekonomi itu. Tidak mungkin menghilangkan perayaan Natal (dalam konteks perayaan gerejani) tapi perayaan-perayaan yang bersifat konsumis, seremonial dan makan biaya banyak; perlu dievaluasi agar tidak semakin mengobarkan semangat konsumisme, seremonialisme dan superficialisme dalam masyarakat; yang semuanya terekspresi dalam bahasa lugas "biar kala nasi asal jangan kala aksi". Mestinya Gereja-gereja tampil profetis, menampilkan pola perayaan yang sederhana namun kaya makna; untuk mengkritik mentalitas masyarakat yang konsumis dan hedonis; pesan kesederhanaan perlu diangkat dan dimanifestasikan dalam bentuk-bentuk perayaan. Saya tidak ingin mendikte (dengan mengatakan harus ini dan harus itu) karena toch pola perayaan harus juga memberi tempat pada kultur dan budaya setempat. Maksud saya dalam konteks ini adalah bahwa (misalnya) kalau suatu masyarakat sudah membudaya tradisi "bawa rantang" untuk setiap perayaan bersama, perayaan Natal yang ditandai dengan makan bersama gaya "bawa rantang" tidak muda serta merta kita nilai sebagai bentuk konsumisme dan hedonisme. 2. Baiklah direnungkan sekali lagi pesan Natal KWI-PGI terutama yang menyentuh sisi ekonomi, yakni ". Memperjuangkan kesejahteraan ekonomi bersama karena tidak ada damai Ok, itu yang ada dalam pikiran saya sehubungan dengan situasi dan suasana perayaan Natal di tengah krisis ekonomi. Di tengah situasi negeri kita sekarang ini janganlah kita menyerah pada
![]()
on December 5, 2006, 14:48:35
217.133.17.86
Dear all,
selama tidak ada perbaikan ekonomi dan selama sebagian besar warga
bangsa ini hidup dalam belenggu kemiskinan.". Dengan pesan ini kita bertanya secara kritis, bisakah perayaan-perayaan Natal kita merangsang dan membangkitkan semangat solidarita antar kita untuk berprihatin deng kemiskinan dan krisis ekonomi yang melanda masyarakat kita? Adakah biasa perayaan Natal itu bagi perubahan situasi ekonomi mereka yang merayakannya? Saya tidak berpikri tentang paket-paket Natal yang sering menyertai perayaan Natal, sebagai katanya, bentuk simpati dan ekspresi solidaritas akan kemiskinan. Yang saya pikirkan adalah bentuk ekspresi solidaritas yang bersifat permanen. Bisakah moment perayaan Natal serentah menjadi moment terkumpulnya orang, hati dan dana yang bisa membantu mengangkat seseorang dari keterpurukan ekonimis? Bisakah sesudah perayaan Natal, orang-orang yang dicerahi semangat solidaritasnya lewat pesan Natal yang begitu bersemangat disampaikan, tergerak untuk "mapalus" untuk memberi modal yang bersifat memberdayakan seseorang demi perbaikan hidup ekonimisnya, menyantun satu dua anak yang terancan putus skolah karena ketiadaan uang sekolah dll, memperpanjang usaha kecil yang mengalami nasib "nafas hipo-hipo", di lingkup kolom, rukun, unit kerja, untit usaha, instansi kecil dllsb: mulailah itu semua dengan kelompok kecil.
kesulitan dan penderitaan.



Message Thread:
![]()
« Back to thread