Posted by Almins Khusus tentang perayaan natal, apakah bisa berperan mempercepat roda pemberantasan kemiskinan, dikaitkan dengan kebiasaan berpesta natal yang konsumtif? Saya ingin mengulasnya dengan menggunakan prinsip ekonomi saja. Tidak lebih. Ini akan berkonsekuensi meningkatkan produksi barang dan jasa yang dikonsumsi, meningkatkan penerimaan pajak, mendorong atau mempertahankan kesempatan kerja akibat menggeliatkan kegiatan produksi, dst. Dari sisi ini, perilaku konsumtif sebenarnya berakibat langsung atau tidak langsung yang baik bagi perekonomian. Jadi janganlah terlalu berpikir negatif tentang perilaku konsumtif. Membaiknya aktivitas produksi, membaiknya kesempatan kerja, membaiknya penerimaan pajak, dsb, semua ini sedikit banyak berada pada rel pemberantasan kemiskinan. Makin banyak orang bekerja bisa berarti makin banyak orang yang terangkat dari kemiskinan. Makin banyak perolehan pajak berakibat makin banyak dana untuk memperbaiki pendidikan bagi orang miskin, dst. Kalau begitu, hal apa yang tidak baik dari pesta natal yang konsumtif? Saya melihat, yang tidak baik adalah pesta natal yang bersifat "besar pasak daripada tiang". Nyak da doi kwa mo ba pesta, doi pas-pasan kwa cuma da kase capat abis karna mo bli makanan minuman for pesta. Ini merusak kinerja orang ybs, keluarga ybs, kelompok yang berpesta, dsb. Sekali lagi, kalau pestanya bersifat besar pasak dari pada tiang. Orang yang berkemampuan pendapatan lebih dari cukup tidak perlu disalahkan jika ia mengadakan acara pesta natal dalam rangka menggembirakan diri dan orang lain (pesta bersama yang berpendapatan rendah) akibat kesadaran telah diselamatkan-Nya. Bagaimana bentuk pesta kegembiraan karena telah diselamatkan-Nya? Ini tidak harus berbentuk makan bersama di tempat si kaya. Bisa juga berbentuk pemberian faktor produksi untuk kegiatan produksi si miskin atau pemberian produk untuk kegiatan konsumsi si miskin. Pemberian produk konsumsi pada si miskin akan mendorong kegiatan produksi dari perusahaan yang memproduksinya. Roda perekonomian menjadi berputar semakin cepat, dst. Pemberian faktor produksi (modal usaha kecil-kecilan, pemudahan kredit usaha, peminjaman tempat usaha, pengadaan tempat usaha murah, kredit murah pengadaan perahu untuk nelayan, dsb) juga akan mendorong produksi nasional sekaligus memperbaiki tingkat ekonomi si miskin yang mendapat bantuan ini. Namun kita perlu berhati-hati. Kegiatan konsumsi produk-produk yang dibuat oleh negara yang telah maju akan mendorong perekonomian negara ybs. Kalau pesta natal diisi misalnya dengan memakai pakaian baru bermerek eropa (meningkatkan dividen para pemegang saham yang merupakan penduduk negara maju), ini bukanlah pesta natal yang memperbaiki kehidupan si miskin. Selain itu, apakah pajak yang meningkat akan benar-benar memperbaiki pendidikan si miskin sehingga meningkatkan peluang si miskin memperbaiki tingkat ekonominya? DI sini kita berhadapan dengan persoalan lama bangsa kita yaitu berbagai manipulasi yang mengakibatkan gagasan teoretis ideal tidak menjadi kenyataan. Pajak meningkat tapi orang miskin akan tetap miskin. Karena hanya rakyat kaya yang memiliki kesempatan memanipulasi uang rakyat umum. (Kalo belanja for natal ... lia2 sadiki, sapa produsennya atau dari mana produknya. Jangan sampai konsumsi anda memperkaya orang kaya. Juga kalau bagi-bagi faktor atau alat produksi, lia2 dulu siapa penerimanya. Orang seperti si vM yang hobi mancing jangan dikasi alat pancing karena dia mampu beli sendiri lho. Lagian,, mancingnya buat hobi, bukang karna nyak da ikang mo makang. Jangan bantu si mampu, tapi bantulah si amper mampus!)
![]()
on December 9, 2006, 11:08:23, in reply to "Natal dan Krisis Ekonomi yang melanda kita"
202.152.170.254
Memerangi kemiskinan sebenarnya disadari perlu, dimengerti dan bisa direalisasikan. Sayang sekali fakta "merealisasikannya" tidak pernah optimal karena pengentasan orang miskin dari kemiskinan belum pernah dijadikan sebagai hal yang benar-benar nomor satu (=direncanakan dan dijalankan!) dalam kehidupan masyarakat umum, dalam kebijakan pemerintah pusat, dalam kebijakan pemerintah-pemerintah daerah, dalam kebijakan organisasi-organisasi agama, dsb di negara ini. Dengan kalimat lain, memikirkan kemiskinan "ya", melakukan usaha pengentasan "seadanya". Ini penilaian saya secara agregat, bukan per individu organisasi, per orang, dsb. Bangsa ini secara agregat belum optimal memerangi kemiskinan. Tapi kalau tingkat kemampuan para pengambil kebijakan memahami pemikiran soal kemiskinannya Amartya Sen yang memenangkan hadiah nobel ekonomi beberapa tahun yang lau, sangat mampu komang!
Mengkonsumsi mengandung makna membeli/meminta produk dari produsen (ingat, memajukan ekonomi sering disederhanakan menjadi meningkatkan produk nasional atau gross national product atau istilah lain yang berkaitan dengan "menambah atau memajukan produksi").
Salam Natal


Message Thread
![]()
« Back to index