Posted by JJ Tulungen Nah apakah nilai religius pemimpin Mapalus juga penting dalam Mapalus? So pasti, jika ditemukan ada pemimpin yang tidak menjiwai ritus dan aksi religius Mapalus berarti dia tidak akan mendapatkan "keter" dan "berkat" dari maha kuasa/opo empung/amang kasuruan/ Tuhan yang Maha Kuasa. Pertanyaan yang perlu ditindaklanjuti adalah apakah pemimpin sekarang di Minahasa menganut nilai religius mapalus ini dalam memimpin daerah jika dilihat bahwa lahan pemerintahan dilakukan secara mapalus? Nilai lain dari mapalus yang mungkin juga merupakan nilai religius mapalus adalah "mekekayaan" yang juga sejalan dengan nilai protestantisme yakni berusaha membuat semua menjadi kaya. Jadi membantu yang lemah dan miskin supaya mereka juga memdapatkan. Beda dengan budaya dan pemahaman/ajaran lain yakni "shared poverty" atau kemiskinan bersama (seperti yang ditemukan atau dirangkum oleh Cliffort Gertz dari Budaya Jawa/Islam tradisinal)"mangan ora mangan, ngumpul". Pasrah, kalau memang sudah miskin, memang sudah destininya begitu sehingga etika kerja keras ndak perlu. Khan kalau miskin bisa dapat makan belas kasihan dari Raja. Beda dengan tradisi mapalus yang berusaha untuk "mekekayaan". Pak Berty dan sekatuari waya mungkin so terlalu panjang ini kang. Tolong kalu ada tanggapan tambahan atau lain untuk memperkaya.
![]()
on December 15, 2006, 2:40:24, in reply to "Nilai Religius Mapalus"
67.38.138.130
Pak Berty,
Memang belum terelaborasi lebih jauh soal ini, juga soal nilai-nilai lain yang ada dalam mapalus dengan harapan bisa torang diskusikan bersama.
Nilai Religius Mapalus menurut pemahaman saya ada dalam dan nampak dalam aksi dan ritus adat mapalus(kalau saya bisa pahami maksud Pak Berty soal dua kata: aksi dan ritus yang bagi saya punya konotasi yang sama). Karena religiusitas mapalus itu tergambar dan menjadi aksi dan ritus adat.
Kalau saya bisa elaborasi lebih dalam atau jauh lagi (dari pandangan saya dan hasil diskusi saya dengan beberapa ahli sosial budaya minahasa termasuk Dr. Turang) bahwa nilai religius mapalus itu sebenarnya yang menjadi pengikat yang kuat sehingga mapalus bisa bertahan. Nilai religius mapalus kalau nilainya berkurang maka mapalus akan ditinggalkan oleh masyarakat (begitu kira-kira penarikan kesimpulan saya yang perlu dicari tahu kebenaran lanjutannya).
Nilai religius Mapalus kalau saya boleh identifikasi adalah antara lain bahwa Mapalus mengutamakan kerja keras dari anggotanya dan kalau mereka bekerja keras akan mendapat pahala di dunia akhirat atau masuk surga, atau kalau zaman lalu sebelum berkembangnya agama-agama modern, akan mendapat karunia dari "opo empung" dan disenangi oleh "opo-empung" dan mendapat hasil yang baik, menjadi lebih "keter" dan "kaya". Ini juga sepaham dengan ethika protestantisme yang dikemukakan oleh ajaran "protestant" bahwa mereka yang bekerja keras akan diberkati. Selain bekerja keras maka upaya kerja itu harus diimbangi dengan upaya ritual yakni beribadah, memuji, mensyukuri berkat dan berdoa. Mapalus yang saya pelajari, pahami, dan sempat saya teliti dalam berbagai kegiatannya selalu mengutamakan hal-hal ini. Kalau sebelum agama-agama modern kegiatan ritualnya dilakukan malam sebelum melakukan kegiatan pekerjaan, selama dan sesudah. Selain itu dalam membagi hasil pekerjaan dan usaha bersama dilakukan secara baik dan jika tidak akan mendapat timpal/pahala dari Tuhan (Opo empung di masa lalu). Dulu saat bekerja bersama-sama, sambil bekerja anggota mapalus diiringi dengan tambor serta tetengkoran menyannyi secara berbalas-balasan dan berbalas pantun yang kebanyakan nyanyiannya memuji kebesaran opo empung dan nyanyian doa kepada opo empung agar supaya apa yang dilakukan dan dikerjakan bisa membawa hasil yang baik. Memang ada banyak ritual mapalus masa lampau yang sudah ditinggalkan dan diganti dengan ritual agama modern khususnya Kristen.
Jadi nilai religius yang ada dan inherit dalam mapalus itu di masa lampau dan dimasa agama-agama modern adalah: Semangat "Bekerja keras supaya mendapat pahala dari Surga" dan "Bekerja keras dan baik/jujur akan mendapat berkat dari Surga", serta mensejajarkan "Berdoa sambil Bekerja" atau "Ritual dan Aksi", semangat ini dikenal dengan semangat dan ethika protestant.
Manusia sebagai mahluk sosial juga tidak lepas dari mahluk religius dalam lingkup mapalus oleh karena itu salah satu yang menyebabkan mapalus itu mulai memudar adalah saat budaya mapalus itu lebih mengutamakan status dan kedudukan manusia sebagai mahluk sosial dan berusaha memisahkannya dari mahluk yang religius.
Selain nilai-nilai ini kira-kira masih ada nggak nilai-nilai lain dalam Mapalus? Juga kalau ada nilai-nilai ini mengapa di Minahasa yang ada sekarang so atau cuma begini dan begitu? Apa sih yang kurang dari Mapalus sehingga torang di Minahasa masih begini atau masih begitu? Atau apa yang lebih dari Mapalus sehingga torang so begini dan begitu? Ato kiapa kang Mapalus so nyandak dijadikan begini atau begitu?

