Posted by Berty Tapi, sepupu saya, seorang petani ladang deng dua pohon seho di kobong, sangat simple akan bertanya: "Apa yang saya akan buat dengan pohon seho itu supaya dua anak kecil di rumah boleh skolah?" Boleh-boleh saja jadi dikalkulasi sekian ribu hektar lahan dengan sekian juta pohon seho, dan produksi per hari sekian juta liter ethanol. Tapi, proyek yang makan waktu itu (minimal 8 tahun stow tanam seho baru boleh batifar akang!, kecuali kalau ada pohon seho hibrida), sebagai proyek masa depan tentu baik; dan baik juga kalau sekarang penduduk mulai disadarkan akan arah kebijakan dan proyek itu, agar mereka menunjang upaya-upaya peralihan teknologi dari sagur, sopi dan gula merah ke teknologi modern Ethanol. Tapi, baik juga dihargai dan disupport apa yang secara rael sudah dapat dipayakan sekarang. Bahwa sekarang sudah ada pabrik yang menampung saguer dan mengolahnya secara profesional dan indrustrial menjadi gula batu, sehingga tu sagur-saguer tidak hanya dikonsumsi di rumah dan di warung, tetapi sudah diproduksi menjadi bula batu. Dengan demikian bisa ditekan jumlah saguer yang beredar di kampung, hal mana (barangkali juga?) bisa menekan jumlah konsumsi saguer dan mengurangi dampak "para pemabo" akibat saguer. Tapi , tanya jo kwa pa orang-orang Tomohon sana, setelah berkembang, apakah ada tanda-tanda penurunan aksi konsumsi saguer setelah adanya pabrik gula batu itu. Kalu tidak, maka barangkali kita akan dengan rendah hati menerima anggapan "so biasa kwa torang minum saguer (and so biasa kwa torang mabo)". Begitu juga dengan Sopi/Cap Tikus, bukan baru skarang berpikir upaya-upaya untuk meningkatkan harganya dan cakupan pengunaannya dengan meningkatkan kadar alkoholnya untuk keperluan medis dll. seberapa upaya itu bersifat stabil dan mapan sehingga para petani kecil itu mengalihkan alamat produksi sopi itu. Lagi-lagi Sopi tetap menjadi minuman primadona orang kampung. Jadi , ide bagus tentang Ethanol ini; tidak akan banyak merebut hati produsen kalau sistem oprasionalnya tidak mampu menjanjikan cara mendapatkan uang secara cepat. Msalahnya adalah : pohon seho so kaluar dia pe mayang, ada anak-anak yang perlu kase makan dan butuh biaya. Jadi jangan salahkan petani sederhana di kampung jika mengunakan jalan pintas produktif; batifar, jual saguer di rumah dan di warong, kong langsung dapa doi for beli beras deng frak oto pigi skolah. Hal-hal sederhana itu yang ada dibalik produksi Cap Tikus; Orang Woloan terkenal dengan ucapan: "banyak yang jadi mester lantaran cap tikus", lantara dari doi cap tikus itulah dorang bayar frak oto deng uang skolah. memang benarlah, kalu pemerintah membuat terobosan untuk menekan tingkat kemabukan (yang secara teoritis merusak tubuh); untuk meningkatkan dan mengalihkan manfaat pengunaan alkohol, akan tetapi kata kunci di pikiran rakyat sederhana itu adalah DOI. Tidak ada dalam benak para produsen cap tikus deng saguer itu, bahwa hasil produksinya adalah untuk merusak tubuh orang; menghansurkan sebuah generasi; yang ada di benak mereka adalah bagaimana saya bisa dapat doi dari hasil pohon seho itu for doi dalam keluarga. Seberapa ide Ethnol ini bisa meresap di pikiran dan membuka perspektif berpikir masyarakat ; tergantung dari sebera doi yang di bisa janjikan. Doi dalam jumlah yang bermiliard rupiah itu, kalau baru akan datang 10 tahun depan, tidak ada gunanya dihadapan ade yang so manangis minta bubur. So, kaum moralis yang sering menilai hitan putih sebuah pekerjaan dan hasil pekerjaan; kaum ilmuan yang bisa mengkalkulasi secara matematis dengan angka-angka yang mengiurkan; APLIKATIFKAN semua ide itu pada apa yang bisa membantu si petani kecil yang punya dua pohon seho dan dua anak kecil yang sedang sekolah.
![]()
on December 19, 2006, 22:50:40, in reply to "POHON SEHO/AREN SUMBER ETHANOL TERMURAH SEBAGAI BAHAN BAKAR TERBARUKAN MENUJU ENERGI MASA DEPAN HIDR"
217.133.17.86
Oh, mantap sekali ini ide.

