Posted by Berty Di kampung saya (jaman saya masih fulltime di sana) kami, tukang beking cap tikus, bukanlah kelompok orang yang secara ekonomis lebih baik dari mereka yang kita sebut papa-miskin. Jangankan untuk mengangkat taraf hidup, untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup harianpun hasil itu tidak mencukupi. Para tukang batifar dan beking sopi masih membentuk kelompok mapalus lagi untuk mengolah kebun. Waktu di luar jam batifar dan beking sopi dipakai untuk bapacol lagi. Bukan kami pulalah yang kurang ja punggu di jalan lantaran mabo-mabo, justru konsumenlah yang torang punggu di jalan. Kamu mo bilang 20 % hasil produksi di konsumsi dalam rumah? Hasil survey di mana doe? Kamu bisa bayangkan kalu kami punya ortu produksi 10 botol cap tikus per hari, kong 2 botol torang kase habis di rumah? Memangnya cap tikus rupa teh manis so ? Anda tahu kenapa saya jadi tukang jual cap tikus dan ortu jadi produsen cap tikus ? Mungkin kami tidak akan pernah buat itu kalau kami tidak pernah tahu kalu di Pinaras, cap tikus dorang bilang "OBAT". semua rumah punya botol pinaraci, dan setiap dua hari sekali kami drop ke setiap rumah satu botol. Satu botol dikonsumsi oleh satu keluarga dalam 2 hari. Dong bilang "cuma for kase panas badan kong kase buka gergantang". Apa yang saya alami tahun 80-an itu, begitu tradisonil, dengan harga jual yang murah (Rp 200 per botol) tidak mampu mengangkat taraf ekonomi produsen. Tapi wajah tahun 80-an ini tidak banyak berubah dengan keadaan mereka yang batifar dan basopi di tahun 2000, ketika terakhir saya lihat mereka di kampung, yang berubah hanyalah siapa ; dulu bapak, sekarang anak. Belakangan ini baru saya dengar sudah ada usaha pabrik Gula Aren di Tomohon yang mampu menyerap tenaga kerja yang banyak untuk jadi tukang batifar dan menghasilkan uang yang cukup besar. Saya tahu, tidaklah bijaksana kalau berpikir "asal saya dapat uang, walaupun hal itu berpotensi menghancurkan hidup manusia". Cap tikus adalah minuman yang berbahaya bagi tubuh, begitu para ahli mengujinya di laboratorium; sama halnya dengan ganja. Tetapi orang koq tetap menanam dan meproduksinya? Tuntutan pasarlah yang menyebakannya; karena ada konsumen. Kalau batifar hanya untuk kebutuhan di rumah, barangkali hal itu bisa dipikirkan oleh seorang tukang batifar. Kalu anda tahu dunia batifar, barangkali anda akan tahu mengapa saguer sampe di warung. sederhana saja jalan pikirannya; petani lia mayang dari pohon seho yang besar; toki sampe akhirnya siap untuk batifar akang; kalu dia so moalai ba tifar akang, mula-mula sedikit dan cukup untuk pake di rumah. Lama-lama produksinya meningkat: Nah siapa di rumah yang bisa habiskan saguer itu kalau sudah sampai diproduksi 40 liter perhari? Ahkirnya dijual ke warung dan para tukang mabo datang lahap sampe ndak bisa pulang rumah. Si petani , kalau pohon seho itu ada di 4 km dari rumah, lama-lama lelah pikul-pikul saguer; akhirnya ditampung dan diolah jadi cap tikus; Nah, kalu produksi cap tikus itu sudah 5 botol per hari, siapa di rumah yang kuat habiskan 5 botol per hari ? Akhirnya orang beli atau masuk warong dan lagi-lagi para tukang mabo datang beli dan habiskan. Tidak ada tukang ba sopi bodoh-bodoh pange samua tetangga for habiskan tu sopi secara gratis kalau dia tahu dia warung mereka harus beli. Kalau dalam rangkah Natal dan Tahun Baru atau Pengucapan ada stow cap tikus dikase gratis buat yang pasiar. Saya sengaja angkat hal-hal simple di balik hidup para tukang batifar dan tukang basopi, untuk memahami problematika simple tapi real dihadapi oleh produsen produk yang dievaluasi bisa menghancukan generasi masa yang akan datang. Saya pikir, kalau anak-anak kita mampu disadarkan akan bahaya serius yang ditimbulkan oleh saguer dan cap tikus, barangkali tingkat konsumsi bisa ditelan dan dengan demikian bisa menekan laju produksi. Hukum ekonominya: orang tidak akan memproduksi apa yang tidak laku di pasaran, bukan? Kalau kita sudah tahu bahaya seriusnya, proyek yang harus dibuat adalah kampanye dan penyadaran publik akan bahaya itu. Kerahkan semua metode dan media komunikasi untuk menyadarkan dan meyakinkan penduduk bahwa msa depan yang sukses dan cemerlang tidak bisa dijanjikan oleh penduduk yang seudah hancur mental dan fisiknya akibat minuman keras (dengan segala jenisnya, termasuk saja di antaranya cap tikus dan saguer). Terhadap argumentasi mereka yang menjadikan produksi saguer sebagai mata pencahariannya, kembangkan alternatif pengolahan yang bisa menjadi tempat tersalurnya produksi itu. Kembangkan pabrik yang mengolah Gula Batu; Alkohol murni; atau Ethanol.![]()
on December 21, 2006, 1:12:41, in reply to "Memang kedua topik ini berbarengan agar lebih memperjelas tujuannya."
217.133.17.86
Rudy,
saya tidak tahu kamu buat survey di mana.


