Posted by mr_maramis Amerika Serikat merupakan produsen ethanol terbesar kedua, dengan memproduksi lebih dari 10 milyar liter per tahun yang sudah merupakan 2 persen dari seluruh bahan bakar minyak yang dipakai negeri ini. China merupakan pembuat ethanol terbesar ketiga. Ethanol saat ini berasal dari beberapa sumber, Brasil dari tebu, Amerika Serikat dari Jagung, sedangkan di Indonesia umumnya berasal dari singkong termasuk oleh BPPT (Badan Pengkajian Penerapan Teknologi). Berawal dari pemikiran, melihat pohon seho dalam rangka pelestarian alam dan ekosistem terutama dalam hal ketersediaan air tanah. Aren merupakan tanaman monokotil dengan system perakaran serabut. Sebaran perakaran umumnya kearah horizontal yang dapat mencapai panjang lebih dari 5 meter. Sistem perakanan demikian sangat efektif mencegah erosi maupun tanah lonsor. Karena permukaan tanah (pori tanah) tetap terpelihara maka infiltrasi air ke dalam tanah berjalan secara normal dan aliran permukaan kecil, sehingga kondisi air tanah (air estetik) tetap stabil. Di musim panas tanaman ini tidak boros air sehingga secara keseluruhan proses evapotranspirsi berlangsung rendah.![]()
on December 24, 2006, 21:03:52
222.124.37.23
Kontinuitas penggunaan bahan bakar fosil (fossil fuel) memunculkan - paling sedikit dua ancaman serius: (1) faktor ekonomi, berupa jaminan ketersediaan bahan bakar fosil untuk beberapa dekade mendatang, masalah suplai, harga, dan fluktuasinya (2) polusi akibat emisi pembakaran bahan bakar fosil ke lingkungan. Polusi yang ditimbulkan oleh pembakaran bahan bakar fosil memiliki dampak langsung maupun tidak langsung kepada derajad kesehatan manusia. Polusi langsung bisa berupa gas-gas berbahaya, seperti CO, NOx, dan UHC (unburn hydrocarbon), juga unsur metalik seperti timbal (Pb). Sedangkan polusi tidak langsung mayoritas berupa ledakan jumlah molekul CO2 yang berdampak pada pemanasan global (Global Warming Potential). Kesadaran terhadap ancaman serius tersebut telah mengintensifkan berbagai riset yang bertujuan menghasilkan sumber-sumber energi (energy resources) ataupun pembawa energi (energy carrier) yang lebih terjamin keberlanjutannya (sustainable) dan lebih ramah lingkungan.
Ethanol (ethyl alcohol) dengan rumus molekul adalah C2H5OH sudah dikatagorikan sebagai energi komersial atau energi teknis karena telah mencapai kematangan teknis dan kematangan komersial dengan Brasil sebagai negara terdepan sekaligus sebagai produsen ethanol terbesar dunia. Dari semua bahan bakar minyak yang dijual di negeri ini, 22 – 26 persen adalah ethanol. Brazil mulai menggelar program bahan bakar ethanol pada pertengahan 1970 untuk merespon meroketnya harga bahan bakar minyak impor. Pada pertengahan 1980, sekitar 90 persen mobil yang beredar di negara itu menggunakan ethanol. Namun, program ini ambruk pada 1990 karena rusaknya jaringan suplai. Kini, Pemerintah Brazil telah berhasil merehabilitasinya kembali.
Salah satu perusahaan otomotif yang bereaksi cepat terhadap penggunaan ethanol adalah Volkwagen AG. Volkswagen merupakan perusahaan otomotif pertama di Brazil dan satu-satunya di dunia yang telah menggunakan mobil teknologi mesin terbaru berbahan bakar bensin ethanol. Mesin yang bisa memproses bahan bakar ini disebut flex-fuel. Dalam bulan April 2005, di Paris Airshow, Industria Aeronautica, sebuah perusahan Brasil, memperkenalkan sebuah pesawat terbang kecil EMB 202, yang merupakan pesawat terbang pertama di dunia yang digerakan dengan alkohol sebagai bahan bakar. Pada saat ini, lebih dari 300 pesawat terbang kecil di Brasil telah memakai ethanol sebagai bahan bakar yang dibuat dari tebu sebagai bahan baku biomassa.
POHON SEHO/AREN SEBAGAI SUMBER ETHANOL
Pohon Seho/pohon aren (Aren/Arenca Pinata/Arenca Saccharifera) adalah sala satu sumber ethanol yang sudah dikenal secara tradisional, umumnya di Indonesia bagian timur dalam bentuk muniman berakohol disebut Sopi di Ambon dan sekitarnya, Sedangkan di Manado/Minahasa di kenal dengan Captikus. Dalam kehidupan masyarakat dirasakan bahwa penggunaan dari minuman beralkohol ini telah menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti merusak masa depan generasi mudah dan mengganggu kondisi keamanan masyarakat. Melihat dampak negatif yang ditimbulkan oleh minuman beralkohol ini dan ketergantungan hidup masyarakat petani terhadap tanaman aren, maka usaha untuk mencegah pemanfaatan tanaman aren bukan merupakan solusi yang tepat. Untuk itu, diperlukan berbagai kajian, baik dalam rangka pengembangan budidayanya, peranannya dalam pengaturan ekosistem lingkungan maupun dalam hal pemanfaatannya kearah yang lebih bernilai positif dan bernilai tinggi.
Tanaman Aren tumbuh di beberapa daerah di Indonesia dan bersama kelompok tanaman palm lainnya merupakan tanaman-tanaman yang tergolong penting di daerah tropis (Harjadi, 1986). Daerah sebaran yang paling banyak terdapat di wilayah Sumatra (Sematra Selatan, Sumatra Barat, Sumatra Timur dan Aceh), Jawa (Jawa Barat dan jawa Tengah), Sulawesi (Sulawesi Utara, Tengah dan Tenggara), Maluku (Seram), Maluku Utara (Halamahera dan Bacan) dan Papua. Di Jawa Barat tanaman tersebut dikenal dengan nama lirang atau nanggung, di Jawa Barat dikenal dengan nama taren atau kawung, sedangkan di Sumatra dikenal dengan nama anau, nau, hanau, peluluk, bergat atau mergat. Kemampuan adaptasinya terhadap ketinggian tempat dari permukaan laut dapat mencapai 0 hingga 1400 meter (Burkill, 1935).
Dengan keunggulan ekosistem tersebut serta potensi ethanol yang dikenal secara tradisional sebagai minuman beralkohol, maka munculah gagasan pada awal tahun 2001 menjadikan pohon seho/aren sumber bahan bakar sebagai energi alternatif terperbaharukan. Gagasan awalnya adalah penanaman 100 juta pohon seho ditanah Minahasa dengan target produksi 1 juta barel ethanol per hari. Diajukan ke UNDP tahun 2002, dan ditindak lanjukan dengan studi tentang potensi tanaman seho/aren (arenga pinata) dan kemungkinan pengembangannya untuk tanaman industri sebagai proyek nasional dengan Minahasaraya menjadi pusat pengkajian awal. Dua faktor penyebab terhentinya program tersebut karena belum tercapainya kematangan komersial sebagai bahan bakar karena saat itu harga BBM (Bahan bakar minyak) masih dibawah Rp 3000 dengan kondisi pengolahan tradisional. Kini dengan harga BBM kisaran Rp 5000 maka seho sebagai sumber ethanol untuk bahan bakar kendaraan telah mencapai kelayakan, apalagi bila dilakukan sentuhan teknologi serta di tanam dan produksi secara massal.
Saat ini di Sulawesi Utara populasi pohon seho sekitar 2 juta dengan demikian dapat diasumsikan diseluruh Indonesia memiliki tidak kuran dari 30 juta pohon, apabilah duapertiganya di olah menjadi ethanol dengan per 1.5 liter ethanol per pohon saja maka dapat di produksi 30 juta liter perhari atau sama dengan 10,8 milyar liter per tahun, sudah melampaui produksi Amerika Serikat saat ini yang sudah mengeksploitir seluruh tanah pertaniannya untuk tanaman jagung.
PENGUASAAN TEKNOLOGI PENYULINGAN
Secara tradisional penyulingan air nira terfermentasi menjadi ethanol dalam bentuk minuman beralkohol sudah sejak ratusan mungkin bahkan ribuan tahun dilakukan oleh masyarakat. Dari bentuk dan cara kerja tradisional kami telah melakukan rekayasa dan mendesign alat penyulingan dengan skala massal. Maka dalam penguasaan teknologi pun secara mandiri dapat kita lakukan. Alat penyulingan skala masal telah pada tahap pembuatan prototipe.


