Posted by Adolf. S on December 28, 2009, 16:12:16, in reply to "Re: MAPALUS, MASIHKAH MENJADI KEARIFAN ADAT MASYARAKAT MINAHASA "
125.167.132.186
Mapalus adalah salah satu bentuk kebudayaan, yg turut membentuk kepribadian dan watak manusia sejak era Malesung (Minahasa lama), sampai kini. Kerja sama mapalus telah menjadi pengalaman tak sadar kolektif (das Kollektive Unbewuszte) yg diturunkan dari generasi ke generasi. Wujud nyata mapalus adalah pd perilaku kolektif yg dikenal dalam nilai kegiatan "maesa-esaan, maghena-ghenangan, matombo-tombolan, maleo-leosan" yg berakar dari kecintaan seseorang kpd sesamanya dlm pandangan hidup Si tou timou tumou Tou. Semua org di seluruh dunia dlm suasana, ruang dan waktu dihadapkan pd permasalahan hidup dan kebutuhan pribadi, keluarga dan masyarakatnya. Krn kekurangan dan kelebihannya sbg makhluk terbatas, manusia individual itu cenderung membangun perilaku kolektif bekerja sama atau memohon suatu kekuatan magis di luar dirinya. Muncul walian yg berfungsi mengantar warga ke altar "watu tumotowa", menyanpaikan doa atau mendengar petunjuk (pepokei/teturu)-Nya. Coba kaji bagaimana muncul tumani embanua (membuka/membangun hunian baru), serta peran tu'a-tu'a ne taranak sebagai ukung (pemimpin) tiap keluarga. Selanjutnya munculnya ukung pakasaan/walak yg dituakan di antara tu'a ne taranak atau berperan sebagai tu'a embanua (hukumtua). Di sana banyak sekali ukung (pemimpin) menyebabkan tak dikenal raja. Muncullah tonaas (tou ngaasan=berotak, tou taas=inti,keras) yg kete/keter, sigha,sia dan le'os. Tona'as dipilih krn kebal/kuat, terampil, kaya dan baik hati. Ia adalah primus inter pares di antara banyak sekali ukung (pemimpin) yg sepakat dan menuakannya. Camkan ini demokrasi dari bawah (from the people, by the people and for the people)di mana tokoh setara sepakat mendukung dn bekerja sama membangun negeri (wanua). Di negeri asing dikenal "coperation", diJawa "gotong royong", di Minahasa "mapalus". Masing-masing lahir dari latar belakang kebudayaan dengan nilai-nilai luhur berbeda. Pertanyaan pertama apakah mapalus sama dengan gotong royong atau koperasi? Pasti ada persamaan dan perbedaan. Perbedaannya makin jauh di tengah perubahan lokal sampai global oleh kemajuan 5T (teknologi, transportasi, turisme, telekomunikasi dan trade). Semangat mapalus sebagai nilai luhur kerja bersama harus kontekstual dengan suasaana perubahan dalam ruang dan waktunya. Coba di desa penduduk dikerahkan membersihkan got atau saluran air. Pekerjaan itu bisa diselesaikan oleh 1 atau 2 org saja. Yang hadir puluhan malah mungkin ratusan orang sekampung. Apa yang anda lihat di sana? Banyak yg santai, mondar mandir, akhirnya pekerjaan tidak siap. Dicipta suasana pemborosan dan pengangguran tenaga kerja. Kapan maju? Patut nilai-nilai luhur kebudayaan, digali dan selektif penerapan prinsip-prinsipnya secara efisien, efektif dan produktif. Tidak mengada-ada dengan analisis dari ruang ber-AC di kantor-kantor mewah, tetapi turunlah ke bawah dan lihat dinamika masyarakat nyata dengan berbagai permasalahannya. Sy brpendapat mapalus tumbuh dari bawah ke atas dlm masy demokratis Minahasa. Berbeda secara hakiki dengan gotong royong yg tumbuh dari atas ke bawah dlm masy feodal, atau koperasi di antara mereka yg rasional bermitra setara di dunia Barat.


